Rio adalah seorang mahasiswa semester 4 di sebuah universitas swasta, jurusan Ilmu Komunikasi. Ia berusia 20 tahun dan berasal dari keluarga Jawa. Rio dikenal sebagai mahasiswa yang berbakat, terutama dalam bidang fotografi dan videografi. Namun, dalam beberapa bulan terakhir, ia sering terlibat konflik dengan teman-teman sekelompoknya. Pemicunya seringkali hal-hal kecil, seperti perbedaan pendapat saat mengerjakan tugas atau kritik terhadap karyanya.
Setelah terlibat perkelahian dengan seorang teman, Rio mendapatkan saran dari teman-temen untuk mengikuti sesi konseling dengan konselor kampus. Awalnya, Rio menolak dan bersikap dingin, tetapi setelah beberapa kali pertemuan, ia mulai terbuka. Rio menceritakan kondisi kehidupannya yang sulit. Hubungan Rio dengan keluarganya memang tidak baik sejak orang tuanya bercerai. Ayahnya, seorang pegawai swasta yang disegani, tidak pernah memberikan nafkah dan telah meninggalkan keluarganya tanpa kabar. Rio tinggal dengan ibunya yang kemudian menikah lagi dengan ayah tirinya yang tidak memiliki pekerjaan tetap, sehingga kondisi ekonomi keluarga menjadi semakin sulit. Rio sangat membenci ayah tirinya karena merasa itu hanya menjadi beban bagi ibunya.
Puncaknya, saat Rio mencoba membujuk ibunya untuk meninggalkan ayah tirinya, ibunya justru membela suaminya dan mengucapkan kata-kata menyakitkan, "Kalau kamu tidak setuju, berarti kamu bukan anak Ibu lagi." Kalimat itu sangat melukai hati Rio. Sejak saat itu, ia memilih untuk merantau dan kuliah di luar kota, memutuskan kontak dengan keluarga, dan tidak pernah pulang atau memberi kabar selama bertahun-tahun. Perasaan sakit hati dan marah terhadap ibu dan ayah tirinya membuatnya menutup diri dari semua orang. Hal ini membuat Rio merasa tidak berharga dan terus-menerus ingin membuktikan diri.
Di sekolah, Rio sering di-bully oleh teman-temannya karena dianggap pendiam. Ia memiliki satu orang sahabat bernama Bima, yang selalu membelanya dan menjadi satu-satunya orang yang ia percaya. Namun, kini Bima juga tidak melanjutkan kuliahnya karena tidak memiliki biaya dan lebih memilih bekerja. Rio merasa marah dan kecewa karena merasa Bima meninggalkannya.
Saat sesi konseling akan berakhir, konselor menyarankan Rio untuk mencoba kembali menjalin hubungan dengan keluarganya, terutama ibunya, agar ia bisa mendapatkan closure. Mendengar hal itu, Rio menjadi sangat marah dan berteriak bahwa semua orang penting dalam hidupnya selalu pergi dan meninggalkannya, termasuk Bima dan sekarang konselor itu. Namun, kemarahan tersebut akhirnya membuat Rio menyadari bahwa ia sebenarnya merasa ditinggalkan, bukan hanya oleh Bima, tetapi juga oleh ayah-ibunya. Rio mulai menyadari bahwa ia perlu menyelesaikan masalah dengan ibunya.
Setelah berusaha keras, Rio akhirnya bisa bertemu dan berbicara dengan ibunya. Ia juga mencari tahu kabar Bima dan mereka kembali menjalin persahabatan. Pengalaman ini membuatnya belajar untuk mengelola emosi dan tidak lagi mudah tersulut amarah.
~Kasus yang disajikan dalam materi ini merupakan ilustrasi fiktif yang disusun semata-mata untuk tujuan pembelajaran. Segala kesamaan dengan individu atau peristiwa nyata adalah kebetulan belaka.~
Simulasi Konseptualisasi Kasus Rio