Simulasi Konseptualisasi Kasus: Penerapan CBT pada Kasus Rio
Simulasi Kasus

Simulasi Konseptualisasi Kasus: Penerapan CBT pada Kasus Rio

10 Oct 2025


Cover

Rio adalah mahasiswa berusia 20 tahun yang datang untuk konseling setelah terlibat perkelahian dengan teman sekelas dan diarahkan untuk mengikuti sesi konseling. Pada awalnya, ia menolak konseling dan menunjukkan sikap dingin, tetapi seiring waktu mulai terbuka. Ia dikenal sebagai mahasiswa berbakat di bidang fotografi dan videografi, namun belakangan sering terlibat konflik interpersonal dan kesulitan mengelola emosi. Hal ini menjadi presentasi (presentation) utama dalam kasusnya.

Masalah Rio muncul sebagai reaksi terhadap pemicu (precipitant) berupa kritik atau perbedaan pendapat kecil dengan rekan kelompoknya. Setiap kali merasa diserang atau dikritik, ia menafsirkan situasi itu sebagai bentuk penolakan atau ketidakadilan, lalu merespons dengan kemarahan yang intens. Reaksi ini memperburuk hubungan sosialnya dan membuatnya semakin terisolasi.

Pola pikir dan perilaku Rio menunjukkan pola maladaptif (pattern) yang berulang, yaitu kecenderungan untuk menilai interaksi sosial secara negatif, menganggap orang lain mudah mengkhianatinya, serta meyakini bahwa ia harus membela diri agar tidak disakiti. Ketika marah, ia cenderung menyerang atau memutus kontak, yang kemudian memperkuat keyakinannya bahwa “semua orang akhirnya meninggalkan saya.” Dalam kerangka CBT, pola ini mencerminkan core belief tentang penolakan (“saya tidak layak dicintai,” “orang lain akan meninggalkan saya”) dan intermediate beliefberupa kebutuhan untuk selalu waspada dan kuat agar tidak terluka.

Predisposisi (predisposition) Rio dapat ditelusuri dari latar belakang keluarganya. Ia dibesarkan dalam keluarga yang tidak stabil secara emosional dan ekonomi. Perceraian orang tua, ketiadaan figur ayah yang suportif, serta konflik dengan ibu dan ayah tiri mempengaruhi kondisi diirnya yang sekarang. Pernyataan ibunya yang menyakitkan (“Kalau kamu tidak setuju, berarti kamu bukan anak Ibu lagi”) membentuk skema maladaptif tentang penolakan dan ketidakberhargaan diri. Pengalaman ini memperkuat keyakinan dasar bahwa cinta selalu disertai kehilangan, dan membuatnya sulit mempercayai orang lain.

Masalah Rio kemudian dipertahankan oleh faktor perpetuasi (perpetuants) seperti cara berpikir hitam-putih (“kalau berkonfik, harus dilawan”), emosi marah yang tidak terkelola, dan perilaku defensif terhadap orang yang dianggap mengkritik. Setiap kali konflik terjadi, Rio semakin yakin bahwa dirinya memang tidak bisa percaya orang lain.

Walaupun demikian, Rio memiliki beberapa faktor protektif dan kekuatan (protective factors & strengths) penting, seperti kemampuan refleksi diri, minat yang kuat dalam bidang kreatif, serta pengalaman positif dengan sahabatnya, Bima, yang menunjukkan bahwa ia mampu menjalin hubungan hangat jika merasa aman. Kesediaannya untuk membuka diri di sesi konseling menandakan adanya potensi pertumbuhan dan kesiapan untuk berubah.

Dari aspek budaya (cultural identity), Rio berasal dari keluarga Jawa yang menjunjung tinggi kehormatan keluarga, peran laki-laki, dan ketaatan pada orang tua. Stres budaya (cultural stress) muncul karena nilai budaya yang demikian ini berbenturan dengan pengalaman pribadinya terhadap ibu dan ayah tiri yang ia nilai tidak memenuhi peran ideal keluarga. Penjelasan budaya (cultural explanation) bagi Rio adalah bahwa kemarahannya merupakan bentuk pembelaan terhadap martabat dirinya, bukan sekadar masalah emosional. Dalam hal ini, kepribadian Rio yang sensitif dan perfeksionis berinteraksi dengan nilai budaya tentang tanggung jawab dan harga diri, memperkuat konflik internalnya (culture and/or personality). Maka dalam konseling membutuhkan empati dan penekanan kehadiran konsisten dari konselor. Pola pikir maladaptif seperti “semua orang pasti akan meninggalkan saya perlu diintervensi untuk membantu Rio mengenali pola pikir tersebut kemudian dapat mengubahnya agar menjadi lebih adaptif.  

Berdasarkan pemahaman tersebut, pola perawatan (treatment pattern) diarahkan pada pengelolaan emosi, pengendalian amarah, dan restrukturisasi pikiran negatif yang berkaitan dengan rasa ditolak. Tujuan perawatan (treatment goals) meliputi: (1) mengurangi intensitas kemarahan dan perilaku agresif, (2) meningkatkan kemampuan berpikir rasional saat menghadapi konflik, (3) memperkuat keterampilan komunikasi, dan (4) membantu Rio membangun kembali hubungan yang sehat dengan keluarga dan teman.

Fokus perawatan (treatment focus) berada pada pengenalan pikiran otomatis yang bersifat negatif dan menggantikannya dengan cara berpikir yang lebih realistis serta adaptif terhadap perbedaan pendapat. Dalam konteks ini, strategi perawatan (treatment strategy) menggunakan pendekatan CBT yang melibatkan cognitive restructuring, pelatihan regulasi emosi, dan latihan relaksasi pernapasan saat marahIntervensi (treatment interventions) spesifik meliputi belajar mengenali perasaan dan situasi pemicu marah, restrukturisasi kognitif untuk menantang pikiran “semua orang akan meninggalkan saya,” latihan pernapasan relaksasi,  serta latihan perilaku untuk Rio membangun koneksi sosial yang positif.

Beberapa hambatan (treatment obstacles) mungkin muncul, antara lain kemungkinan penolakan awal untuk mengikuti konseling, sikap tidak menerima otoritas nasehat, serta kesulitan mengungkapkan perasaan. Karena itu, konselor perlu menciptakan hubungan konseling yang aman, empatik, dan penuh penerimaan. Dalam perawatan berbasis budaya (treatment-cultural), penting bagi konselor untuk memahami nilai-nilai maskulinitas dan hierarki dalam budaya Jawa, agar pendekatan tidak dianggap mengancam harga diri Rio.

Secara keseluruhan, prognosis (treatment prognosis) kasus Rio cukup baik. Ia menunjukkan kemampuan reflektif, kesediaan membuka diri untuk menceritakan pengalaman hidupnya. Jika Rio mampu menerapkan keterampilan regulasi emosi dan berpikir lebih adaptif, kemungkinan besar ia akan dapat mengelola kemarahan dan membangun hubungan sosial yang lebih sehat. 


Unduh Lembar Konseptualisasi Kasus Rio

Tinggalkan Komentar