Simulasi Konseptualisasi Kasus: Penerapan CBT pada Kasus Nadia
Simulasi Kasus

Simulasi Konseptualisasi Kasus: Penerapan CBT pada Kasus Nadia

10 Oct 2025


Cover

Nadia adalah siswi SMP berusia 13 tahun yang dirujuk ke guru BK karena mengalami perubahan perilaku dan penurunan prestasi dalam tiga bulan terakhir. Ia sering membolos, menentang guru, berkelahi dengan teman, dan kehilangan minat pada kegiatan yang sebelumnya disukai, seperti menggambar dan bermain basket ini menunjukkan presentasi (presentation)Gejala-gejala emosional dan perilaku ini muncul setelah Nadia mendengar percakapan ibunya dan bibinya tentang perselingkuhan ayahnya, yang selama ini dianggapnya sebagai figur yang harusnya menjaga keluarga. Peristiwa ini menjadi pemicu (precipitant) yang menimbulkan perasaan marah, kecewa, dan kehilangan rasa aman terhadap orang tua..

Pola (pattern) yang terlihat dalam diri Nadia adalah penarikan diri, ketidakpercayaan terhadap figur otoritas, dan ekspresi kemarahan melalui perilaku agresif. Ia bereaksi terhadap rasa kecewa dan kehilangan dengan cara melawan atau menghindar. Predisposisi (predisposition) yang mendasari pola ini berasal dari pengalaman masa kecil di mana ayahnya dikenal sangat kritis dan jarang menunjukkan kasih sayang. Gaya pengasuhan yang dingin dan otoriter tersebut membuat Nadia belajar bahwa mengekspresikan emosi tidak aman dan tidak akan didengarkan. Hal ini memperkuat keyakinan dasar (core beliefs) bahwa “orang dewasa tidak bisa dipercaya,” “tidak ada yang benar-benar peduli,” dan “aku hanya aman jika aku menjaga jarak.”

Faktor pemelihara (perpetuants) muncul dari interaksi keluarga yang tidak seimbang. Ibunya, meskipun bermaksud baik, sering mendominasi percakapan dan tidak memberi ruang bagi Nadia untuk mengekspresikan diri. Sikap guru yang lebih menekankan disiplin ketimbang pemahaman juga memperkuat persepsi Nadia bahwa semua orang dewasa ingin mengatur dan menyalahkan. Pikiran otomatis seperti “aku pasti disalahkan lagi” dan “tidak ada yang mau dengar aku” menimbulkan emosi marah dan frustrasi yang kemudian diekspresikan melalui perilaku membolos dan perkelahian.

Namun, di balik permasalahan tersebut, Nadia memiliki faktor protektif (protective factors) yang cukup kuat. Ia cerdas, kreatif, dan memiliki minat tinggi pada seni. Aktivitas menggambar menjadi salah satu cara untuk menyalurkan emosi. Dari sisi lain, ia juga masih memiliki dukungan dari ibu yang tampak dari partisipasi ibu untuk menemani Nadia dalam sesi konseling. Faktor ini bisa menjadi harapan untuk perubahan positif bagi Nadia. 

Dalam konteks budaya (cultural identity) keluarga Jawa, Nadia tumbuh dari keluarga yang sederhana dan minim peran ayah dalam hidupnya. Nilai-nilai yang mengelilingi pertumbuhannya seperti kepatuhan dan kesopanan membuat Nadia merasa tertekan untuk menahan emosi negatif menjadi stres budaya (cultural stress). Perilakunya yang melawan sering disalahartikan sebagai kenakalan, padahal merupakan bentuk ekspresi ketidakberdayaan dan kebutuhan untuk didengarkan adalah penjelasan budaya (cultural explanation)

Faktor dinamika budaya dan kepribadian (Culture and/or personality) cukup memiliki pengaruh pada kasus Nadia yaitu dari pola keluarga yang dingin, stigma perceraian di masyarakat, dan status sosial serta kepribadian yang cukup memepengaruhi permasalahan yaitu dirinya yang mudah marah, menentang aturan, serta merasa ditolak.

Dari perspektif Cognitive Behavioral Therapy (CBT)pola perawatan (treatment pattern)  diawali dengan membangun hubungan konseling yang aman dan tidak menghakimi agar Nadia merasa dipercaya, hal ini penting agar guru BK/konselor bisa membantu Nadia mengatasi rasa bingung dan marah karena telah mendapatkan empati dan validasi perawatan. Kemudian mulai menggali kesulitan Nadia hasil dari pola pikir dan keyakinan yang maladaptif yang terbentuk dari pengalaman masa lalu dan diperkuat oleh situasi sekarang. Fokus perawatan (treatment focus) diarahkan pada pengelolaan emosi dan membangun kembali kepercayaan diri Nadia serta membantu Nadia mengenali hubungan antara pikiran, perasaan, dan perilaku, sehingga Nadia bisa belajar mengekspresikan emosi dengan cara yang lebih sehat.

Tujuan terapi (treatment goals) adalah mengurangi perilaku agresif dan penarikan diri, membangun kembali rasa percaya terhadap orang dewasa, dan mengembangkan keterampilan mengelola emosi. Setelah itu dilanjutkan dengan membantu Nadia menerima kenyataan keluarga dan membangun hubungan sosial yang baik.  Strategi perawatan (treatment strategy) melibatkan pendekatan CBT melalui behavioral activation untuk mengajak Nadia kembali aktif dalam kegiatan positif dan bermakna, guided discovery untuk mengajak Nadia menemukan sendiri cara berpikir yang lebih realistis, latihan ekspresi emosi agar ia dapat mengenali dan menyalurkan perasaan dengan cara yang tepat, serta pelatihan keterampilan komunikasi dan memperbaiki hubungan emosional.

Dalam sesi terapi, intervensi perawatan (treatment interventions) dilakukan melalui self-monitoring membantu Nadia mencatat pikiran, perasaan, dan situasi yang memicu emosi setiap hari. Cognitive restructuring untuk menantang dan mengganti pikiran negatif seperti “semua orang dewasa tidak bisa dipercaya” dengan cara berpikir yang lebih seimbang. Kemampuan seni seperti menggambar datau kegiatan olahraga seperti basket dimanfaatkan untuk mengekspresikan emosional agar lebih sehat.

Hambatan perawatan (treatment obstacles) yang mungkin muncul adalah resistensi awal terhadap konselor dan kesulitan membangun kepercayaan. Oleh karena itu, hubungan konseling yang hangat dan empatik menjadi dasar penting dalam proses terapi. Dalam perawatan budaya (treatment-cultural), konselor juga perlu sensitif terhadap nilai budaya dan konteks keluarga, agar tidak memperkuat perasaan disalahpahami yang sudah lama dialami Nadia. Mengingat usia Nadia yang masih remaja gaya komunikasi juga perlu menyesuaikan seperti menghindari gaya otoritatif untuk menumbuhkan kepercayaan Nadia untuk mengikuti sesi konseling.

Dengan dukungan yang tepat dan intervensi yang konsisten, prognosis (prognosis) Nadia tergolong baik. Jika proses konseling dilakukan dengan lembut dan penuh empatik dari guru BK/konselor. Ketika Nadia memiliki rasa aman, membangun hubungan konseling yang baik, dan belajar mengekspresikan diri secara sehat, maka gejala emosional dan perilakunya dapat membaik.


Unduh Lembar Konseptualisasi Kasus Nadia

Tinggalkan Komentar