Siti adalah mahasiswi berusia 22 tahun yang baru saja menyelesaikan studi sarjana di bidang Pendidikan Bahasa dan Sastra. Ia datang ke layanan konseling dengan keluhan perasaan tertekan, bingung, murung, kesulitan tidur, penurunan motivasi, dan rasa bersalah yang kuat. Gejala ini muncul seiring dengan kebingungannya menghadapi dilema antara menerima tawaran beasiswa S2 ke luar negeri atau tetap tinggal di rumah untuk mendampingi ayahnya yang menderita penyakit kronis. Kondisi tersebut menjadi presentasi (presentation) utama dalam kasusnya.
Masalah yang dialami Siti dipicu oleh peristiwa pemicu (precipitant) berupa tekanan emosional dan sosial dari dua arah. Di satu sisi, keluarga dan terutama ayahnya yang sakit berharap ia tetap di rumah sebagai bentuk pengabdian. Di sisi lain, dosen dan teman-temannya mendorong Siti untuk mengambil kesempatan beasiswa prestisius itu. Pertentangan dua nilai antara tanggung jawab keluarga dan pengembangan diri ini membuat Siti mengalami stres, kecemasan, dan kebingungan yang mendalam.
Siti menunjukkan pola maladaptif (pattern) dari berpikir dan prilakunya, yaitu kecenderungan merasa bersalah dan takut dianggap durhaka atau gagal ketika menghadapi pilihan hidup yang berpotensi mengecewakan orang lain terutama keluarga. Ia sering memikirkan situasi secara berlebihan, menunda keputusan, dan mencari persetujuan dari orang di sekitarnya. Pola ini memperkuat kebingungan emosional dan membuatnya terjebak dalam situasi tanpa tindakan.
Pola tersebut terbentuk dari predisposisi (predisposition) keluarga dan budaya yang kuat. Siti tumbuh dalam keluarga Sunda yang menjunjung tinggi nilai bakti dan kepatuhan terhadap orang tua. Ia juga memiliki pengalaman sering dibandingkan dengan kakaknya, yang dianggap kurang berhasil, sehingga muncul keyakinan bahwa ia harus menjadi anak yang sempurna untuk membanggakan keluarga. Kepribadiannya yang sensitif dan penurut memperkuat core belief bahwa “aku harus selalu menuruti harapan orang tua agar diterima dan tidak bersalah.”
Masalah Siti bertahan karena adanya faktor perpetuasi (perpetuants) berupa pikiran otomatis negatif seperti “Jika aku pergi, aku akan menjadi anak durhaka,” atau “Kalau aku tidak merawat ayah, kesehatannya akan memburuk.” Pikiran ini memunculkan emosi seperti cemas, bersalah, dan takut kehilangan keluarga, yang kemudian diikuti perilaku menghindar dari keputusan. Ia juga mencari petunjuk melalui doa atau saran orang lain untuk mendapatkan pembenaran atas tindakannya. Pola ini menciptakan lingkaran kognitif-perilaku yang mempertahankan stres dan kebingungan.
Namun demikian, Siti memiliki faktor protektif (protective factors) yang penting yaitu kecerdasan akademik, religiusitas yang tinggi, memiliki motivasi tinggi untuk belajar, serta menjalin hubungan positif dengan teman dan dosen. Ia juga memiliki kemampuan reflektif dan kemauan untuk mencari bantuan profesional, yang menjadi modal kuat dalam proses terapi.
Dari aspek budaya (cultural identity), Siti mengidentifikasi dirinya sebagai perempuan Sunda dalam keluarga religius dan tradisional menjunjung tinggai nilai pengabdian pada keluarga. Stres budaya (cultural stress) muncul karena ia terjebak di antara nilai tradisional tentang bakti dan nilai modern tentang kemandirian perempuan dan pendidikan. Penjelasan budaya (cultural explanation) yang ia berikan terhadap masalahnya adalah konflik moral dan religious, ia merasa masalahnya terjadi sebagai tanda ujian dari Tuhan bahwa imannya sedang diuji. Secara kepribadian dan budaya (culture and/or personality), nilai-nilai ini memperkuat kecenderungan Siti untuk mengutamakan kepatuhan dan menghindari keputusan yang berisiko menimbulkan ketidakharmonisan keluarga.
Dalam konteks konseling, pola perawatan (treatment pattern) diarahkan untuk membantu Siti mengenali dan menantang pikiran-pikiran maladaptif yang mempertahankan rasa bersalah dan kebingungan antara tanggung jawab keluarga dan pengembangan diri. Tujuan perawatan (treatment goals) jangka pendek adalah mengurangi kecemasan dan ketegangan emosional akibat konflik nilai, sedangkan tujuan jangka panjang adalah membantu Siti membuat keputusan yang realistis dan sesuai dengan nilai pribadinya.
Fokus perawatan (treatment focus) adalah menggali pikiran otomatis dan keyakinan maladaptif tentang kewajiban moral serta menilai ulang makna “berbakti” secara lebih rasional dan seimbang. Melalui strategi perawatan (treatment strategy) berupa restrukturisasi kognitif, konselor membantu Siti mengenali bahwa pengabdian kepada keluarga tidak harus diartikan sebagai pengorbanan total terhadap dirinya sendiri.
Beberapa intervensi (treatment interventions) yang digunakan meliputi pencatatan pikiran otomatis (automatic thought record), cognitive restructuring untuk menantang keyakinan “anak durhaka,” latihan pemecahan masalah (problem-solving training) untuk menimbang keputusan secara objektif, serta klarifikasi nilai (values clarification) agar Siti mampu mengenali nilai pribadi dan spiritualnya secara lebih sehat.
Dalam proses terapi, hambatan (treatment obstacles) yang mungkin muncul adalah kekuatan nilai budaya dan religiusitas yang tinggi, yang dapat menimbulkan resistensi ketika konselor menantang keyakinan maladaptifnya. Selain itu, rasa takut kehilangan restu keluarga bisa membuatnya ragu untuk mengekspresikan keinginan pribadi.
Oleh karena itu, perawatan berbasis budaya (treatment-cultural) menjadi penting. Konselor perlu mengintegrasikan nilai spiritual dan budaya Sunda ke dalam proses konseling dengan pendekatan empatik. Pendekatan yang menghargai makna spiritual “berbakti” untuk membantu Siti menafsirkan ulang tentang nilai tersebut secara lebih adaptif, bahwa berbakti juga dapat berarti menghormati kepercayaan orang tua sambil tetap mengejar cita-cita yang bermanfaat bagi keluarga di masa depan.
Secara keseluruhan, prognosis (treatment prognosis) Siti tergolong cukup baik. Ia memiliki motivasi tinggi, kesadaran diri yang baik, dan sumber daya sosial yang mendukung. Dengan bimbingan yang tepat, ia berpotensi menata ulang keyakinannya secara kognitif, mengurangi rasa bersalah, dan mengambil keputusan hidup yang lebih sehat dan seimbang antara nilai keluarga, religiusitas, dan aspirasi pribadinya.
Unduh Lembar Konseptualisasi Kasus Siti