Budi adalah mahasiswa S2 berusia 28 tahun yang datang ke layanan konseling dengan keluhan kecemasan, kesedihan, dan kemarahan setelah putus hubungan dengan tunangannya tiga bulan lalu. Ia juga mengalami penurunan fokus dalam menyelesaikan tesis dan kesulitan mempertahankan motivasi akademik. Dalam interaksi sosial, Budi terlihat ramah dan aktif, namun di balik penampilannya ia menyimpan perasaan tidak cukup baik dan tekanan untuk memenuhi harapan orang lain. Ini menjadi presentasi masalah utama yang tampak dalam sesi konseling.
Masalah Budi dipicu oleh peristiwa (precipitant) putusnya hubungan dengan tunangan setelah konflik tentang pernikahan. Mantan tunangannya menuntut kepastian hubungan, sementara Budi merasa belum siap secara finansial dan ingin fokus menyelesaikan pendidikan. Peristiwa ini menimbulkan perasaan gagal, kehilangan harga diri, dan munculnya pikiran negatif tentang dirinya sebagai laki-laki yang tidak berhasil memenuhi ekspektasi.
Jika ditelusuri lebih dalam, Budi memperlihatkan pola maladaptif (pattern) berupa rasa malu dan takut dinilai gagal ketika menghadapi tekanan interpersonal. Dalam situasi seperti itu, ia cenderung menarik diri, menghindari tanggung jawab emosional, atau menampilkan citra diri yang percaya diri untuk menutupi rasa tidak aman. Pola ini berakar dari pengalaman masa kecil dan interaksi dengan keluarga besar yang sering membandingkan pencapaian antaranggota keluarga. Ia tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya hanya akan dianggap berharga bila sukses atau dapat membanggakan keluarga.
Latar belakang tersebut menjadi predisposisi penting yang membentuk keyakinan inti (core beliefs) seperti “Saya harus sempurna untuk diterima” dan “Jika saya gagal, saya tidak berharga.” Kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan, pengalaman drop out karena masalah keuangan, serta kepribadian perfeksionis dan sensitif terhadap penilaian orang lain semakin memperkuat pola berpikir maladaptif tersebut.
Masalah ini berlanjut karena adanya perpetuasi (perpetuants) berupa pikiran otomatis negatif seperti “Saya gagal memenuhi harapan keluarga” atau “Saya tidak cukup sukses dibandingkan saudara-saudara saya.” Pikiran ini memicu emosi cemas, sedih, frustrasi, dan marah, yang kemudian diikuti dengan perilaku menghindar seperti menarik diri dari komunitas, menunda pekerjaan akademik, dan mengalihkan perhatian melalui aktivitas sosial yang dangkal. Siklus ini memperkuat stres dan memperlemah kepercayaan diri Budi.
Meskipun demikian, Budi memiliki beberapa faktor protektif dan kekuatan, seperti kemampuan sosial yang baik, refleksi diri yang cukup mendalam, serta kemauan untuk mengikuti konseling. Ia menunjukkan kesadaran terhadap tekanan yang dihadapi dan motivasi untuk memahami dirinya, yang menjadi potensi penting dalam proses pemulihan.
Dari sisi identitas budaya, Budi adalah laki-laki Jawa yang hidup di lingkungan keluarga besar yang menekankan nilai kesuksesan dalam karier, pendidikan, dan pernikahan. Stres budaya muncul karena tuntutan ini menciptakan tekanan sosial untuk segera menikah dan sukses secara ekonomi, yang membuat Budi merasa tertinggal dan malu. Dalam penjelasan budaya, Budi menafsirkan penderitaannya sebagai kegagalan moral untuk memenuhi ekspektasi sosial, bukan sebagai masalah psikologis. Nilai budaya dan kepribadiannya yang perfeksionis dan sensitif terhadap penilaian orang lain saling memperkuat rasa cemas dan inferioritas yang ia rasakan.
Berdasarkan analisis tersebut, pola perawatan (treatment pattern) diarahkan untuk membantu Budi mengidentifikasi dan mengubah keyakinan negatif tentang keberhasilan dan harga diri. Tujuan awal terapi adalah mengurangi kecemasan dan meningkatkan kepercayaan diri, sementara tujuan jangka panjangnya adalah membantu Budi merasa damai dengan dirinya dan mampu menghadapi tekanan keluarga dengan lebih sehat.
Fokus perawatan terletak pada upaya menantang pikiran yang terlalu kritis terhadap diri sendiri dan membangun pemahaman baru yang lebih realistis tentang nilai diri. Untuk mencapai itu, strategi perawatan menggunakan cognitive restructuring dan pendekatan empatik agar Budi merasa diterima tanpa harus memenuhi standar eksternal.
Intervensi perawatan mencakup latihan mencatat pikiran otomatis negatif, mendiskusikan nilai-nilai pribadi, dan mengidentifikasi pencapaian yang bermakna secara personal. Konselor juga dapat membantu Budi membedakan antara nilai keluarga besar yang menekankan kesuksesan materi dengan nilai pribadinya yang menempatkan pendidikan dan kemandirian sebagai prioritas.
Hambatan yang mungkin muncul dalam terapi meliputi kecenderungan Budi untuk membandingkan diri dengan orang lain, kesulitan menerima kegagalan, serta resistensi terhadap eksplorasi emosional yang lebih dalam. Karena itu, penting bagi konselor untuk menjaga hubungan terapeutik yang suportif dan empatik.
Dalam konteks perawatan budaya, konselor perlu seimbang yaitu memberikan kepekaan terhadap budaya dan juga tetap harus fokus menangani gaya kepribadian atau pola maladaptif Budi. Memebrikan empati dan memahami adanya tekanan budaya pada Budi untuk membantu Budi merasa dihargai bukan dihakimi. Selama konseling juga dapat membantu mengalihkan fokus tekanan eksternal ke tujuan peronal yang realistis untuk mengurangi stes budaya sekaligus menguatkan resiliensinya.
Secara keseluruhan, prognosis Budi tergolong cukup baik. Ia memiliki kemampuan reflektif, keterampilan sosial, dan motivasi untuk berubah. Jika ia dapat mempraktikkan restrukturisasi kognitif secara konsisten dan mengembangkan keyakinan baru tentang nilai dirinya, maka ia berpotensi mengalami peningkatan signifikan dalam kesejahteraan emosional dan fungsi akademiknya.
Unduh Lembar Konseptualisasi Kasus Budi