Sekar adalah mahasiswi berusia 22 tahun yang datang untuk konseling setelah mengalami penurunan semangat belajar dan motivasi akademik selama beberapa bulan terakhir. Ia merasa sulit berkonsentrasi, mudah lelah, susah tidur, dan mulai menarik diri dari teman-temannya (presentasi). Kondisi ini terjadi setelah ia gagal dalam seleksi magang di sebuah lembaga internasional yang menjadi impiannya. Sejak saat itu, ia merasa kecewa, malu, dan minder dibandingkan teman-teman yang berhasil. Situasi ini menjadi pemicu (precipitant) munculnya perasaan negatif dan penurunan produktivitasnya di kampus.
Bila dilihat dari pola berpikir dan perilakunya, Sekar menunjukkan pola maladaptif (pattern) yang khas yaitu ketika menghadapi kekecewaan, ia lebih memilih menarik diri, menyalahkan diri sendiri, dan merasa tidak berharga. Ia sering kali memusatkan perhatian pada kelemahan dirinya dan menghindari situasi yang membuatnya merasa tidak kompeten. Dalam konteks CBT, pola ini menggambarkan adanya pikiran otomatis negatif seperti “saya gagal,” “saya tidak cukup baik,” dan “semua orang lebih hebat dari saya.” Pikiran-pikiran tersebut menimbulkan emosi sedih, cemas, dan rendah diri yang kemudian memperkuat perilaku pasif serta menarik diri dari lingkungan sosial.
Pola ini tampaknya berakar pada predisposisi dalam pengalaman masa kecilnya. Sekar tumbuh dalam keluarga yang cenderung kritis dan sering membandingkan dirinya dengan kakak laki-laki yang lebih sukses. Ia merasa kurang diperhatikan dan jarang mendapatkan penghargaan emosional dari orang tuanya. Hal ini membentuk keyakinan inti (core belief) bahwa dirinya tidak cukup baik, dan bahwa penerimaan dari orang lain bergantung pada prestasi yang ia capai.
Masalah yang dialaminya kini juga dipertahankan oleh beberapa faktor perpetuasi (perpetuants), antara lain kebiasaannya menarik diri dari teman, komunikasi yang minim dengan keluarga, serta lingkungan sosial yang terbatas di tempat kos. Ketika ia menjauh dari orang lain, ia memang merasa lebih aman dari penilaian, tetapi di sisi lain justru semakin memperkuat perasaan kesepian dan tidak berharga. Ini menunjukkan adanya siklus kognitif-perilaku yang terus berulang (pikiran negatif → emosi negatif → perilaku menghindar → pengalaman gagal → kembali memperkuat pikiran negatif).
Meskipun demikian, Sekar memiliki beberapa faktor protektif dan kekuatan (protective factors & strengths) yang penting. Ia memiliki dosen pembimbing yang peduli terhadap kondisi akademiknya serta seorang teman kos yang suportif dan dapat dipercaya. Ia juga masih memiliki kemampuan akademik dan potensi kognitif yang baik, yang dapat menjadi dasar bagi proses pemulihan.
Dari aspek budaya (cultural identity), Sekar berasal dari keluarga Jawa dengan nilai yang menekankan prestasi, kehormatan keluarga, dan perbandingan antar anak. Nilai budaya ini memperkuat tekanan psikologis ketika ia merasa gagal memenuhi harapan (stress budaya dan akulturasi). Dalam penjelasan budayanya (cultural explanation), Sekar melihat masalahnya sebagai akibat dari kegagalan akademik dan rasa malu terhadap keluarga. Dalam hal ini, nilai budaya keluarga dan pola kepribadian Sekar saling berinteraksi dalam memperkuat masalah yang dialaminya. Karena faktor budaya cukup berperan dalam msalah Sekar, maka pendekatan konseling harus peka budaya (cultural sensitive) dengan memvalidasi perasaan minder akibat pola asuh keluarga untuk membantu Sekar memproses stress dan pengalaman dibandingkan antar saudara. Dari sisi kepribadian proses konseling perlu membantu sekar mengatasi pikiran negatif tentang “saya tidak berharga karena gagal magang” serta diperkuat dengan menyoroti kekuatan personal atau pencapaian di luar akademik.
Berdasarkan pemahaman tersebut, pola perawatan (treatment pattern) diarahkan untuk membantu Sekar membangun rasa aman, meningkatkan harga diri, dan mengubah pola berpikir serta perilaku yang tidak adaptif. Tujuan perawatan (treatment goals) meliputi penurunan gejala depresif, peningkatan motivasi belajar, serta penguatan keterampilan sosial dan hubungan interpersonal. Fokus perawatan (treatment focus) adalah mengidentifikasi dan memodifikasi pikiran otomatis negatif serta mengatasi perilaku menghindar yang memperkuat perasaan tidak berdaya.
Dalam pendekatan CBT, strategi perawatan (treatment strategy) yang digunakan mencakup restrukturisasi kognitif, yaitu membantu Sekar mengenali, menguji, dan menantang pikiran negatifnya; aktivasi perilaku, untuk meningkatkan aktivitas positif dan keterlibatan sosial; serta pelatihan keterampilan sosial dan asertivitas agar ia dapat menjalin hubungan yang lebih sehat. Intervensi (treatment interventions) yang relevan termasuk penggunaan pencatatan pikiran otomatis (Automatic Thought Record), pelatihan keterampilan sosial, dan konseling individual yang empatik serta kolaboratif.
Beberapa hambatan perawatan (treatment obstacles) mungkin muncul, seperti sensitivitas Sekar terhadap kritik, rasa malu, atau kecenderungan untuk menghindari topik yang membuatnya merasa tidak nyaman. Selain itu, keterbatasan dukungan keluarga juga dapat memperlambat proses pemulihan. Oleh karena itu, perawatan berbasis budaya (treatment-cultural) perlu memperhatikan nilai-nilai keluarga Jawa yang hierarkis dan menekankan pencapaian. Konselor diharapkan membantu Sekar menafsirkan ulang nilai-nilai tersebut agar lebih adaptif dan tidak menekan dirinya.
Secara keseluruhan, prognosis (treatment prognosis) Sekar cukup baik. Ia memiliki kesadaran terhadap masalahnya, kemauan untuk menerima bantuan, serta dukungan dari lingkungan sekitar. Jika ia mampu berpartisipasi aktif dalam terapi, belajar mengenali dan mengubah pikirannya, serta mulai kembali membangun hubungan sosial yang sehat, maka peluang pemulihannya tinggi. Namun, jika ia tetap menarik diri dan mempertahankan keyakinan negatif, kemajuan yang dicapai bisa lebih lambat dan terbatas.
Unduh Lembar Konseptualisasi Kasus Sekar