Elemen-Elemen dalam Formulasi Perawatan (Treatment Formulation)
Konseptualisasi Kasus

Elemen-Elemen dalam Formulasi Perawatan (Treatment Formulation)

29 Sep 2025


Cover

Sebagai calon konselor, wajar ketika berhadapan dengan konseli masih merasa bingung harus berkata apa atau melakukan apa dalam proses konselingnya. Hal semacam ini wajar terjadi, namun ini juga bisa membuat sesi konseling jadi tidak terarah jika konselor tidak memiliki peta kognitif yang jelas. Peta kognitif ini sebagai alat bantu konselor untuk tahu kemana harus fokus, apa yang perlu diperhatikan misalnya mana kata-kata penting atau kata kunci yang diuacpakn konseli atau mengobservasi bahasa non-verbal konseli, serta bagaimana mengarahkan proses konseling agar tidak melenceng. 

Formulasi perawatan (Treatment Formulation) merupakan bagian terakhir dari konseptualisasi kasus yang fokus pada aksi nyata, yaitu untuk membantu konseli melepaskan pola amladaptif dan menggantinya dengan pola yang lebih adaptif. Formulasi perawatan terdiri dari delapan elemen utama berikut ini: 

1. Perubahan pola dalam perawatan (treatment patteran)

Perubahan pola adalah inti dalam terapi yaitu tujuan untuk mengganti pola maladaptif (perilaku atau pola pikir yang tidak efektif) dengan pola adaptif (perilaku atau pola pikir yang lebih sehat dan berfungsi lebih baik dalam kehidupan). Perubahan pola ini melibatan tiga langkah, yaitu, mengurangi intensitas dan frekuensi pola maladaptif, kemudian mengembangkan pola adaptif yang lebih positif, dan terakhir mempertahankan pola adaptif agar tetap bertahan dalam kehidupan sehari-hari (Beitman dan Yue, 1999). 

Empat tingkat perubahan dalam pengobatan (Sperry dan Sperry, 2020):

2. Tujuan perawatan (treatment goals): Menetapkan Tujuan yang Ingin Dicapai

Pada dasarnya tujuan perawatan adalah hasil spesifik yang ingin dicapai konseli selama menjalani proses terapi. Penetapan tujuan yang ingin dicapai dari proses konseling ini akan mendasari kerja sama seperti apa yang akan dilakukan oleh konselor dengan konseli. Konseling adalah proses klinis, oleh karena itu tujuan perawatan hendaknya dapat diukur melalui indikator yang jelas apakah tujuan tercapai atau belum, dapat dicapai sesuai kondisi dan kapasitas konseli, realistis untuk dicapai, dan disepakati bersama antara konselor dengan konseli. 

Tujuan perawatan dapat bersifat jangka pendek atau jangka panjang. Tujuan jangka pendek biasanya dapat dicapai dalam waktu singkat, misalnya untuk mengurangi gejala yang membuat konseli datang ke konselor atau membuat konseli kembali pada kondisi fungsional dasar. Sementara tujuan jangka panjang biasanya membutuhkan waktu lama untuk mencapainya karena fokusnya adalah perubahan yang mendalam dan fundamental, seperti perubahan pola pikir, kepribadian, atau perilaku yang sudah mandarah daging. Tujuan perawatan adalah sebagai fondasi dari sebuah proses konseling, karena dengan menetapkan tujuan yang jelas dan disepakati konselor bersama konseli akan memiliki panduan yang jelas untuk mencapai hasil yang diinginkan.  

3. Fokus perawatan (treatment focus): Cara untuk Mencapai Tujuan

Fokus perawatan adalah arah utama konseling yang membantu konselor dan konseli tetap fokus pada tujuan yaitu untuk mengganti pola maladaptif dengan pola yang lebih adaptif. Dalam praktik konseling, fokus perawatan adalah hal yang penting karena konseling bukan sekedar mengikuti alur konseli, tetapi lebih menekankan pada akuntabilitas dan bukti keberhasilan. Artinya, konselor harus bisa menunjukkan bahwa ada perubahan positif setelah proses konseling.  

Fokus perawatan dapat diibaratkan seperti peta atau GPS jika dalam perjalanan. Kalua pada proses konseling fokus perawatan adalah destinasi yang ingin dicapai, maka fokus perawatan adalah jalur yang harus diikuti supaya konselor dan konseli tidak tersesat di jalan.

Dalam sesi konseling biasaya ada tiga arah fokus yang bisa diambil ketika konseli bercerita, yaitu:

  • Bertanya detail faktual, ini biasanya konselor sibuk menggali banyak fakta, berharap menemukan arah. 
  • Membiarkan percakapan mengalir bebas, yaitu konselor hanya mengikuti cerita konseli ke mana pun arahnya.
  • Mengaitkan cerita dengan tujuan perawatan, yaitu konselor langsung memproses situasi secara terapeutik untuk menghasilkan perubahan.

Bagi konselor pemula seringkali arah fokusnya pada poin pertama dan kedua, akibatnya waktu habis tetapi perubahan tidak terjadi. Contohnya, konseli mengatakan ia tidak mengerjakan tugas rumah yang disepakati. Kemudian konselor pemula akan bertanya panjang lebar alasannya hingga larut pada cerita konseli. Dengan begitu, tanpa disadari, konselor justru memperkuat pola konseli yang suka mencari-cari alasan. 

Sementara biasanya konselor yang berpengalaman akan mengarahkan fokus seperti poin ketiga. Misalnya konselor yang sedang menerapkan pendekatan CBT, konsekor tahu bahwa inti masalah bukan sekedar “tidak mengerjakan tugas,” melainkan keyakinan negatif yang dimiliki konseli: “saya tidak mampu, kalau saya mencoba ini akan gagal lagi, saya akan semakin tidak berharga. Jadi lebih baik tidak perlu mencoba sama sekali.” Dari pemahaman ini, konselor langsung memproses keyakinan maladaptif itu dalam sesi. 

Jika memahami fokus seperti apa yang dibutuhkan, konselor akan tetap berada pada langkah menuju perubahan. Selain itu akan terhindar juga dari arus percakapan yang tidak produktif, dan justru mengarah pada apa yang benar-benar penting bagi konseli. 

4. Strategi perawatan (treatment strategy): Tindakan atau Intervensi yang Perlu Dilakukan

Strategi Perawatan adalah rencana aksi, atau jika dianalogikan seperti kendaraan dan rute yang akan digunakan untuk mencapai tujuan. Strategi perawatan dapat dipahami sebagai rencana tindakan yang dirancang secara spesifik untuk membantu konseli mencapai pola yang lebih adaptif. Melalui pemilihan strategi yang tepat akan membuat proses konseling lebih efektif, aman, dan efisien.

Dalam praktik konseling dan psikoterapi, ada berbagai macam strategi perawatan. Setiap pendekatan terapi biasanya punya strategi yang khas, tetapi sering kali seorang konselor juga memadukan berbagai strategi sesuai kebutuhan konseli. Berikut adalah beberapa strategi perawatan yang sering digunakan: 

  • Interpretasi (Interpretation)

Strategi ini berfokus pada "membaca" di balik kata-kata konseli. Konselor akan membuat hipotesis atau dugaan tentang hubungan antara pikiran, perilaku, atau emosi konseli dengan pikiran atau emosi yang tidak disadari. Ini untuk membantu memberikan pemahaman yang lebih dalam pada konseli tentang diri mereka. Strategi ini biasanya digunakan dalam pendekatan psikodinamika termasuk terapi Jungian atau Adlerian.

  • Restrukturisasi Kognitif (Cognitive Restructuring

Ini adalah strategi inti dari Terapi Kognitif-Perilaku (CBT). Tujuannya adalah membantu konseli mengenali, menantang, dan mengubah keyakinan atau cara berpikir yang menyimpang. Startegi ini akan mengajak konseli berpikir secara logis dan adaptif. Teknik yang digunakan menerapkan strategi ini biasanya dengan pertanyaan sokratik, meminta konseli mencari bukti, dan lain-lain. 

  • Penggantian (Repacement)

Jika restrukturisasi kognitif terasa terlalu sulit bagi beberapa konseli, strategi penggantian bisa menjadi alternatif yang efektif. Tujuannya adalah langsung mengganti pikiran atau perilaku yang tidak sehat dengan yang lebih baik dengan menawarkan solusi praktis dan cepat. Strategi ini umumnya digunakan dalam pendekatan CBT, terapi berfokus solusi, dan terapi Adlerian.

  •  Eksposur (Exposure)

Strategi ini digunakan untuk mengatasi fobia atau kecemasan. Konseli akan secara sengaja dan bertahap dihadapkan pada objek atau situasi yang ditakuti. Dengan pemaparan ketakutan yang berulang otak akan belajar bahwa hal yang ditakuti tidak berbahaya, sehingga kecemasan berkurang (habituasi). Teknik yang digunakan pada strategi ini adalah desensitisasi sistematis, flooding, atau guided imagery

  • Dukungan (Support)

Strategi ini berfokus pada membangun lingkungan yang aman, penuh penerimaan, dan peduli. Konselor tidak mencoba mengubah kepribadian konseli secara drastis, tetapi membantu mereka merasa lebih baik. Cara ini berguna untuk meringankan gejala, mengurangi stress, dan meningkatkan kemampuan konseli untuk menghadapi masalah sehari-hari. 

  • Psikoedukasi dan Pelatihan Keterampilan Sosial (Psychoeducation and Social Skills Training

Strategi ini membekali konseli dengan pengetahuan dan melatih keterampilan praktis yang dibutuhkan agar dapat dipakai secara langsung. Misalnya keterampilan komunikasi, problem solving, asertivitas, atau mengelola konflik.

  • Penggunaan Obat (Medication)

Dalam beberapa kasus, psikoterapi dipadukan dengan obat-obatan psikiatri (misalnya antidepresan atau antipsikotik).

Obat dapat membantu mengurangi gejala, tetapi biasanya bukan satu-satunya solusi. Penelitian menunjukkan bahwa kombinasi medikasi dan psikoterapi (misalnya CBT) sering lebih efektif dibanding jika hanya salah satunya saja.

  • Pengalaman Emosional Korektif (Corrective Emotional Experience)

Strategi ini menekankan bahwa pemahaman saja tidak cukup untuk perubahan. Perubahan nyata terjadi ketika konseli mengalami pengalaman yang berlawanan dengan ekspektasi negatif mereka. Misalnya, konseli terbiasa diperlakukan keras atau ditolak, tetapi dalam konseling ia justru mengalami penerimaan, empati, dan dukungan. Pengalaman baru ini bisa menjadi titik balik penting yang membantu penyembuhan.

Strategi perawatan adalah jalan yang dipilih konselor untuk membantu konseli mencapai tujuan terapi. Setiap strategi ini memiliki peran yang unik dalam perjalan terapi, tidak ada satu strategi yang paling benar untuk semua orang. Seorang konselor bisa memilih strategi yang khas untuk pendekatan tertetu (misalnya restrukturisasi kognitif dalam CBT), atau memadukan beberapa strategi sesuai kebutuhan konseli. Fokus perawatan dengan pendekatan CBT adalah fokus pada pikiran dan perilaku maladaptif. 

5. Intervensi pengobatan (treatment interventions): Aksi Nyata dalam Terapi

Intervensi perawatan adalah tindakan atau langkah konkret yang dilakukan konselor untuk membantu konseli mencapai tujuan konseling yang telah ditetapkan sebelumnya. Intervensi ini perlu dipilih dengan hati-hati yaitu mempertimbangkan:

Target masalah konseli (untuk menyasar pada masalah utama yang ingin diselesaikan) dan kesiapan konseli (memastikan konseli bersedia dan mampu mengikuti intervensi yang diberikan. 

Intervensi bukan suatu langkah yang berdiri sendiri, akan tetapi langkah nyata untuk melaksanakan strategi yang telah ditetapkan. Misalnya, jika konselor memilih strategi restrukturisasi kognitif (pendekatan CBT), naka intervensi yang dilakukan bisa berupa:

  • Konselor meminta konseli menuliskan pikiran otomatis,
  • Kemudian bersama-sama menantangnya dengan pertanyaan kritis,
  • Lalu menggantinya dengan pikiran yang lebih realistis. 

Dengan begitu, intervensi akan menjadi cara praktis untuk membuat strategi benar-benar berjalan.

6. Kendala dan tantangan pengobatan (treatment obstacles and challenges): Memperkirakan kemungkinan kendalam untuk mencapai tujuan perawatan

Proses konseling yang berlangsung tidak terlepas dari adanya sutau hambatan dan tantangan. Hambatan ini bisa saja muncul dari diri konseli, diri konselor, hubungan antara konseli dan konselor, atau bahkan dari proses konseling itu sendiri. Menyadari dan mengantisipasi hambaran sejak awal sangat penting agar rencana konseling berjalan dengan lebih efektif. 

Sperry (2010) menjelaskan bahwa sebuah konseptualisasi kasus yang baik adalah yang mampu memprediksi apa saja hambatan yang mungkin muncul di setiap tahap konseling, seperti dari resistensi, ambivalensi (ragu-ragu), reaksi transferensi, sampai kesulitan mempertahankan hasil terapi dan menghadapi fase terminasi (pengakhiran konseling). 

Salah satu cara untuk mengantisipasi hambatan adalah dengan memahami pola kepribadian dan kebiasaan maladaptif konseli. Misalnya:

  • Konseli yang sifatnya bergantung dan menghindar, konseli ini biasanya sulit membicarakan hal-hal pribadi. Mereka bisa saja sering membatalkan janji, datang terlambat, atau tampak meragukan konseli. Namun, setalah terbentuk kepercayaan dan mengikuti konseling, mereka cenderung bergantung sehingga sulit mengakhiri hubungan konseling kecuali ada dukungan sosial yang kuat. 
  • Konseli dengan pola pasif-agresif atau tingkat reaktansi tinggi, kemungkinan mereka dengan pola seperti ini akan menunjukkan sikap menolak, melawan, atau ragu-ragu ketika konselor memberikan arahan atau ekspektasi tertentu. 

Jika konseling diibaratkan sebuah perjalanan, maka hambatan-hambatan ini bisa dianggap sebagai jalan yang ditutup, jalan memutar, kecelakaan, cuaca buruk, atau medan yang sukit. Seorang konselor yang terampil akan mampu memprediksi hambatan atau rintangan ini sehingga tetap bisa membantu konseli mencapai tujuan meski harus mencari jalur alternatif. 

7. Pengobatan budaya (treatment cultural): Menyikapi faktor budaya yang membentuk permasalahan

Berdasarkan formulasi budaya, seorang konselor yang professional dapat menilai apakah faktor budaya berperan dalam kondisi yang dialami konseli. Jika ditemukan bahwa budaya memengaruhi konsisi konseli, maka pendekatan pengobatan yang memperhatikan aspek budaya menjadi sangat penting. 

Pada tahap ini, konseli harus menentukan metode yang paling tepat, apakah itu menggunakan intervensi berbasis budaya, terapi yang memperhatikan budaya, atau kombinasi keduanya. Setelah itu, konselor perlu merencanakan bagaimana cara menggabungkan pendekatan ini dengan pengobatan lainnya yang telah disusun dalam perawatan konseli. 

8. Prognosis pengobatan (treatment prognosis): Menilai kemungkinan gangguan akan berkembang

Prognosis pengobatan adalah prediksi mengenai bagaimana kondisi atau gangguan seseorang akan berkembang, baik dengan pengobatan maupun tanpa pengobatan. Prognosis ini bisa diberikan sebelum pengobatan dimulai, agar konseli bisa mempertimbangkan berbagai pilihan pengobatan dan manfaatnya. Beberapa konselor juga memberikan prognosis berdasarkan apakah hambatan atau tantangan yang mungkin muncul dalam pengobatan bisa diatasi atau tidak. Prognosis biasanya diberikan dengan kategori seperti sangat baik, baik, cukup, hati-hati, atau buruk. 

Jika diibaratkan dalam perjalanan, prognosis ini seperti menggambarkan bagaimana kemungkinan sampai ditujuan dengan selamat dalam waktu yang telah diperkirakan.  

 

Eleman-elemen dalam formulasi pengobatan ini saling terkait satu sama lain, proses pengobatan dimulai dengan strategi pengobatan yang mencakup intervensi yang tepat dan sensitivitas budaya. Fokus pengobatan kemudian diarahkan pada tujuan pengobatan yang lebih spesifik dengan pola pengobatan yang disesuaikan untuk mencapai hasil yang optimal. 


Tinggalkan Komentar