Formulasi budaya merupakan komponen keempat dalam konseptualisasi kasus menurut Sperry. Bagian ini juga penting bagi praktisi klinis untuk memahami dan membantu konseli secara lebih efektif. Formulasi budaya ini untuk memahami bagaimana kepercayaan, nilai, sikap, dan praktik budaya seorang konseli mempengaruhi hidup mereka, penderitaan yang mereka alami, dan cara mereka mencari bantuan.
Penelitian menunjukkan bahwa meskipun banyak parktisi yakin bahwa formulasi budaya itu penting, namun hanya sedikit yang benar-benar menerapkannya dalam praktik mereka (Hansen et al., 2006). Hal yang sama juga berlaku untuk pada calon konselor (Neufild et al., 2006). Padahal, di era modern ini, sensitivitas budaya sudah menjadi keharusan, bukan lagi pilihan, dalam profesi kesehatan mental.
Pentingnya Formulasi Budaya dalam Konteks Indonesia
Indonesia adalah negara dengan keragaman etnis, agama, dan budaya yang luar biasa. Mengabaikan faktor budaya sama saja dengan mengabaikan inti dari identitas konseli. Formulasi budaya membantu konselor:
- Memahami masalah konseli dari sudut pandang mereka sendiri, bukan hanya dari teori barat.
- Mengidentifikasi sumber kekuatan dan dukungan sosial yang dimiliki konseli, seperti keluarga atau komunitas.
- Merancang intervensi yang tidak hanya efektif secara klinis, tetapi juga diterima dan sesuai dengan norma budaya konseli.
Apa Itu Formulasi Budaya?
Secara sederhana, formulasi budaya adalah tinjauan sistematis terhadap faktor dan dinamika budaya yang relevan dengan kasus konseli. Ini adalah alat untuk menjawab pertanyaan kunci: "Peran apa yang dimainkan oleh budaya dalam masalah konseli?"
Formulasi ini melengkapi formulasi klinis dan memberikan pemahaman mendalam tentang identitas budaya, tingkat adaptasi, cara konseli menjelaskan masalahnya, dan bagaimana faktor budaya berinteraksi dengan kepribadian mereka.
Empat Elemen Kunci dalam Formulasi Budaya
Formulasi budaya dibangun di atas empat elemen utama berikut ini:
1. Identitas Budaya
Ini adalah elemen paling mendasar. Identitas budaya adalah bagaimana konseli melihat dan mendefinisikan dirinya sebagai bagian dari kelompok etnis, suku, atau agama tertentu. Di Indonesia, identitas ini sangat kompleks.
- Contoh: Seorang konseli keturunan Jawa-Batak mungkin merasa terombang-ambing antara nilai-nilai Jawa yang mengutamakan harmoni dan nilai-nilai Batak yang lebih tegas. Atau, seorang remaja di kota besar mungkin berjuang antara tradisi keluarga yang sangat agamis dengan gaya hidup modern yang ia lihat di lingkungannya.
Untuk membantu asesmen, konselor bisa menggunakan kerangka seperti model RESPECTFUL atau ADDRESSING, namun sesuaikan pertanyaan dengan konteks lokal. Tanyakan tentang peran keluarga, komunitas adat, atau nilai-nilai agama dalam hidup mereka, serta bagaimana hal-hal ini membentuk siapa diri mereka.
2. Stres Budaya dan Akulturasi
Akulturasi adalah proses beradaptasi dengan budaya yang berbeda, sering kali memicu stres akulturatif. Di Indonesia, stres ini tidak hanya terjadi pada imigran, tetapi juga pada individu yang berpindah ke kota besar, atau yang berada di tengah-tengah konflik nilai.
- Contoh: Seorang mahasiswa dari desa yang merantau ke kota besar bisa mengalami stres akulturatif karena harus menyesuaikan diri dengan bahasa, norma sosial, dan gaya hidup yang sangat berbeda. Begitu pula dengan seseorang yang pindah ke lingkungan dengan mayoritas agama yang berbeda, yang bisa menghadapi diskriminasi atau kesulitan untuk beradaptasi.
- Konflik Antargenerasi: Ini sangat umum di Indonesia. Orang tua yang memegang teguh tradisi keluarga (misalnya, perjodohan) sering kali berkonflik dengan anak-anak yang lebih berakulturasi dengan budaya modern (misalnya, memilih pasangan sendiri).
Memahami stres ini membantu konselor melihat masalah konseli sebagai respons normal terhadap tekanan sosial, bukan semata-mata sebagai gangguan psikologis.
3. Penjelasan Budaya (Cultural Explanation)
Elemen ini berfokus pada bagaimana konseli menjelaskan masalah mereka dari sudut pandang budaya dan spiritual. Konseli mungkin tidak menggunakan terminologi klinis, melainkan ungkapan yang lebih familiar bagi mereka:
- Penyakit fisik: "Sakit hati" atau "masuk angin" bisa menjadi cara untuk mengekspresikan kesedihan atau kecemasan.
- Kepercayaan spiritual: Masalah bisa dianggap sebagai "santet," "gangguan roh," atau "ujian dari Tuhan."
- Takdir: Kondisi yang dialami mungkin dianggap sebagai "nasib" atau "takdir" yang harus diterima.
Dengan memahami penjelasan ini, konselor dapat membangun kepercayaan, menunjukkan rasa hormat, dan merancang intervensi yang sejalan dengan sistem kepercayaan konseli. Konselor juga bisa mengeksplorasi pengalaman konseli dengan praktik penyembuhan tradisional, seperti dukun, tabib, atau kyai.
4. Budaya dan/atau Kepribadian
Terakhir, konselor perlu menilai perpaduan pengaruh antara dinamika budaya (tekanan sosial, norma) dan dinamika kepribadian (sifat bawaan, cara berpikir). Tanyakan pada diri sendiri: "Sejauh mana masalah konseli ini dipengaruhi oleh budayanya, dan sejauh mana oleh kepribadiannya?"
- Contoh 1 (90% Budaya, 10% Kepribadian): Seorang konseli mengalami depresi berat karena tekanan keluarga untuk menikah dengan pilihan orang tua, padahal ia ingin melanjutkan pendidikan.
- Contoh 2 (55% Budaya, 45% Kepribadian): Seorang konseli mengalami kesulitan berinteraksi dengan orang lain (faktor kepribadian), yang diperburuk oleh tekanan sosial untuk bersikap ramah dan patuh (faktor budaya).
Dengan menentukan perpaduan ini, konselor dapat memilih intervensi yang paling tepat. Jika masalahnya lebih dominan akibat budaya, intervensi harus fokus pada manajemen stres, adaptasi sosial, atau mediasi keluarga. Jika masalahnya lebih dominan akibat kepribadian, intervensi dapat lebih berfokus pada terapi individu.