Dalam terapi, kita tidak hanya focus pada gejala yang muncul, tetapi juga menggali apa penyebabnya. Inilah peran penting dari Formulasi Diagnostik. Ini adalah penilaian deskriptif yang menjawab pertanyaan mendasar: "Apa yang sebenarnya terjadi?"
Formulasi ini berfungsi seperti peta yang memberikan gambaran menyeluruh tentang situasi unik seorang konseli, mencakup tiga elemen kunci yang saling terhubung yaitu, presentasi, pemicu, dan pola. Berikut elemen dalam formulasi diagnostik:
1. Presentasi (Presentation): Gambaran Masalah yang Terlihat
Presentasi adalah respons khas konseli terhadap pemicu. Ini adalah bagian yang paling sering kita lihat dan dengar, yaitu masalah yang dibawa konseli ke ruang terapi.
Bagian ini mencakup jenis dan tingkat keparahan gejala (misalnya, kecemasan berlebihan, kesedihan mendalam), masalah dalam fungsi personal atau relasional, serta riwayat dan perjalanan masalah tersebut. Singkatnya, ini adalah "manifestasi luar" dari masalah konseli.
Contoh kasus misalnya, seorang mahasiswa yang tiba-tiba mengalami kesulitan tidur dan sering panik saat mendekati ujian. Itu adalah presentasi msalahnya.
2. Pemicu (Precipitant): Mengidentifikasi Awal Mula Masalah
Pemicu adalah kondisi atau peristiwa yang memicu pola maladaptif yang akhirnya memunculkan masalah (Presentasi).
Untuk mengidentifikasinya, kita perlu melihat kembali kapan gejala mulai muncul. Pertanyaannya seperti: "Kapan ini dimulai?", "Situasi apa yang terjadi saat itu?", "Siapa saja yang terlibat?", "Apa yang Anda lakukan dan rasakan saat itu?".
Pemicu adalah "tombol" yang mengaktifkan masalah.
Contoh kasus misalnya, mahasiswa tadi mulai mengalami kesulitan tidur setelah ia gagal dalam satu mata kuliah yang sangat penting. Kegagalan itu adalah pemicunya.
3. Pola (Pattern): Menghubungkan Presentasi dan Pemicu
Pola adalah inti dari konseptualisasi kasus. Ini adalah deskripsi ringkas tentang cara khas seorang konseli dalam mempersepsi, berpikir, dan merespons. Pola ini yang membuat kita bisa memahami mengapa suatu pemicu menghasilkan presentasi tertentu. Apapun pendekatan terapinya, pola itu penting karena pola menjelasakan bagaimana masalah konseli terbentuk dan bertahan. Perubahan pola biasanya menjadi tujuan utama dalam terapi. Dalam CBT, pola utama yang digunakan adalah schema-driven pattern — pola pikiran, emosi, dan perilaku yang terbentuk dari pengalaman awal dan memengaruhi respons saat ini.
Jenis-Jenis Pola:
- Pola Adaptif: Pola pikir dan respons yang fleksibel, efektif, dan sesuai dengan situasi. Ini menunjukkan kompetensi personal dan relasional yang sehat.
- Pola Maladaptif: Pola yang kaku, tidak efektif, dan tidak sesuai. Pola ini sering kali menjadi penyebab gejala, masalah fungsional, dan ketidakpuasan yang kronis. Jika pola ini sangat mengganggu, ini bisa berkembang menjadi gangguan kepribadian.
Dimensi Pola:
- Pola Situasional (Situation-Specific): Pola ini hanya terjadi pada situasi tertentu saja. Misalnya, hanya saat berhadapan dengan orang yang berwibawa.
- Pola Jangka Panjang (Longitudinal): Pola ini sudah terjadi berulang kali sepanjang hidup konseli dan menjadi karakteristik yang mendasar. Pola inilah yang sering kali memberikan penjelasan logis tentang situasi konseli saat ini.