Konseptualisasi kasus adalah tulang punggung terapi yang efektif. Ini bukan sekadar menebak-nebak, tetapi proses sistematis untuk memahami konseli secara menyeluruh. Menurut Sperry & Sperry (2020), konseptualisasi kasus terdiri dari empat komponen utama. Setiap komponen menjawab pertanyaan berbeda tentang konseli.
1. Formulasi Diagnostik (Diagnostic Formulation): “Apa yang terjadi?”
Memberikan deskripsi tentang situasi konseli saat ini dan faktor yang menyebabkan (perpetuates) atau faktor pemicu (trigerisng factors) dan masalah kepribadian yang bisa mengacu pada diagnosis DSM jika diperlukan.
Kunci pertanyaan: “Mengapa pola ini terjadi pada konseli?”
Contohnya: konseli merasa cemas sejak kehilangan pekerjaan, sulit tidurm dan merasa tidak berguna, diagnosisnya yaitu gangguan kecemasan umum.
2. Formulasi Klinis (Clinical Formulation): “Mengapa Itu Terjadi?”
Memberikan penjelasan tentang pola konseli. Bagian ini menjadi komponen inti dalam konseptualisasi kasus untuk menghubungkan diagnostik dan formulasi treatment. Jika berdasarkan pada pendekatan CBT, konselor menjelaskan pola psikologis konseli, seperti keyakinan inti, skema kognitif, atau dinamika interpersonal yang mendasari masalah.
Kunci pertanyaan: “Mengapa itu terjadi?”
Contohnya: konseli dibesarkan dalam lingkungan yang perfeksionis, ia percaya bahwa gagal=tidak berharga, sehingga memperkuat kecemasannya terhadap masa depan.
3. Formulasi Kultural (Cultural Formulation): “Apa Peran Budaya?”
Memberikan analisis faktor sosail dan budaya yang mempengaruhi masalah konseli. Di sini bisa memberikan informasi tentang identitas budaya, akulturasi budaya (jika ada), model penjelasan penyakit, dan bagaimana budaya berinteraksi dengan dinamika kepribadian.
Kunci pertanyaan: “Apa peran budaya dalam kasus konseli ini?”.
Contohnya: konseli berasal dari budaya yang menekankan tanggung jawab keluarga. Ia merasa gagal karena tidak bisa menafkahi keluarga wakalupun sudah berusaha keras.
4. Formulasi Treatment (Treatment Formulation): “Bagaimana Konseli Dapat Berubah)
Memberikan gambaran ekaplisit rencana intervensi, penjelasan lebih lanjut dari formulasi diagnostik, klinis, dan formulasi budaya yang menjawab pertanyaan “bagaimana konseli dapat berubah?” Di sini konselor merumuskan tujuan konseling, fokus utama, startegi dan spesifik intervensi, dan perhitungan hambatan dan tantangan dalam mencapai tujuan konseling.
Contohnya: konselor akan menggunakan pendekatan CBT (restrukturisasi kognitif, behavioral action) untuk membantu konseli membangun keyakinan baru dan mengurangi rasa bersalahnya.
Empat komponen ini saling berkaitan dan menyusun kerangka berpikir komprehensif dalam memahami dan menangani masalah konseli. Formulasi klinis adalah inti yang menjembatani antara diagnosis dan rencana intervensi. Formulasi kultural seringkali terabaikan, padahal sangat penting untuk menyesuaikan pendekatan dengan nilai dan keyakinan konseli.