Proses Terapi CBT
Teori Dasar CBT

Proses Terapi CBT

25 Sep 2025


Cover

Terapi CBT memiliki struktur yang jelas dalam setiap tahapannya. Terapi ini tidak berjalan secara spontan atau tanpa arah, melainkan mengikuti langkah-langkah yang sistematis untuk membantu konseli memahami dan mengubah pola pikir yang tidak adaptif. Proses terapi dimuali sejak sesi awal hingga tahap terminasi, dengan konselor dan konseli berkerja sama secara kolaboratif. 

Sejak awal sesi, konselor melakukan asesmen masalah konseli, membangun hubungan kolaboratif, dan menyusun konseptualisasi kasus. Pada tahap ini konselor menggali data tentang pikiran, perasaan, pengalaman hidup, dan tujuan konseli. Sesi awal ini menjadi dasar penting untuk menentukan langkah selanjutnya dalam proses konseling hingga tercapainya tujuan konseling.

1. Penemuan Terarah (Guided Discovery)

Teknik ini disebut dialog Sokrates, konselor mengajukan pertanyaan-pertayaan yang membantu konseli menemukan sendiri adanya pola pikir yang tidak sehat. 

Contoh Dialog: 

Konseli: “Saya merasa cemas saat presentasi nanti, pasti semua orang akan menilai saya tidak kompeten.

Konselor: “Apa asumsi yang Anda tentang hal itu?”

Konseli: “Saya menebak bahwa mereka berpikir yang terburuk tentang saya.”

Konselor: "Apa buktinya bahwa mereka berpikir demikian?"


2. Teknik Tiga Pertanyaan (Three-Question Technique)

Salah satu bentuk spesifik dari dialog Sokrates adalah tiga pertanyaan ini:

o   Apa bukti untuk pikiran tersebut?

o   Apakah ada cara lain untuk menafsirkan situasi itu?

o   Jika pikiran itu benar, apa kemungkinan terburuk yang akan terjadi?

Melalui teknik ini, konseli belajar menantang pikiran negatifnya dan menggantinya dengan cara berpikir yang lebih objektif.  

3. Mengidentifikasi Pikiran Otomatis (Specifaying Automatic Thoughts)

Mengajak konseli untuk secara spesifik menangkap dan mencatat pikiran negatif yang muncul secara spontan. Konselor dapat meminta konseli mencatat pikiran tersebut dalam format seperti Dysfunctional Thought Recoed (DTR). Catatan ini menjadi bahan diskusi pada sesi berikutnya, sekaligus membantu konseli menyadari pola pikir yang berulang.

4. Tugas Rumah (Homework)

Terapi dengan pendekatan CBT tidak hanya berlangsung di ruang konseling. Sebagian besar kerja pentingnya melalui tugas rumah. Konseli diminta mencoba strategi baru, mencatat pengalaman, atau menguji kepercayaan mereka dalam kehidupan nyata. Jika tugas tugas tidak selesai, hal itu justru menjadi bahan untuk refleksi untuk melihat adanya kemungkinan hambatan pada keyakinan maladaptif tentang performa atau hubungan antara konselor dan konseli.

5. Format sesi (Session Format)

Setiap sesi biasanya memiliki format yang terstruktur. Konselor mulai dengan mengecek suasana hati konseli, kemudian bersama-sama menyusun agenda sesi berdasarkan masalah yang muncul minggu itu. Setelah itu, konselor meninjau tugas rumah, membahas masalah utama, lalu menetapkan tugas baru. Di akhir sesi, konselor meminta umpan balik dari konseli, sebagai wujud hubungan kolaboratif.

6. Penghentian (Termination)

Terminasi sebenarnya sudah mulai disiapkan sejak awal. Tujuan akhirnya adalah agar konseli mampu menjadi “terapis bagi dirinya sendiri.” Pada tahap ini konselor dan konseli membahas bagaimana keterampilannya yang dipelajari bisa terus digunakan setelah terapi selesai. Jadwal pertemuan biasanya dikurangi secara bertahap untuk melatih kemandirian konseli. Fokusnya adalah mencegah kekambuhan dan memperkuat kemampuan konseli dalam mengelola pikirannya secara mandiri.

 

Secara keseluruhan, proses CBT berjalan secara terstruktur, kolaboratif, dan berorientasi pada tujuan. Dengan kombinasi teknik ini, konseli tidak hanya memperoleh wawasan baru, tetapi juga keterampilan nyata untuk menghadapi tantangan hidup secara mandiri.


Tinggalkan Komentar