Dalam Terapi Kognitif Perilaku (CBT), asesmen bukanlah sekadar proses di awal, melainkan aktivitas yang terus-menerus dilakukan sepanjang sesi konseling. Tujuannya sederhana namun penting, yaitu mendapatkan gambaran jelas tentang masalah klien, terutama pola pikir yang tidak sehat, agar intervensi yang dirancang benar-benar tepat sasaran.
Dengan asesmen yang baik, konselor dapat:
- Membuat konseptualisasi kasus yang akurat.
- Membantu klien mengenali pola pikirnya sendiri.
- Menentukan strategi perubahan yang paling efektif.
Mari kita bahas empat metode asesmen yang paling umum digunakan dalam CBT.
1. Wawancara (Interviews)
Wawancara adalah fondasi dari proses asesmen untuk menggali informasi tentang riwayat hidup, masalah utama, pikiran otomatis, skema, distorsi kognitif, dan tujuan yang ingin dicapai konseli. Konselor dapat menggunakan wawancara secara terstruktur (dengan daftar pertanyaan yang sudah ditentukan) atau tidak terstruktur (lebih fleksibel dan menyesuaikan dengan respon konseli).
Pertanyaan diajukan dengan hati-hati, misalnya, dari pada bertanya, “Kamu kan malas ya, jadi nggak masuk sekolah?”, lebih baik bertanya, “Apa yang terjadi ketika kamu tidak masuk sekolah?” Selain itu, konselor mambantu konseli membedakan antara pikiran dan perasaan.
2. Self-Monitoring (Pemantauan Diri)
Konseli biasanya diminta untuk mencatat pikiran, perasaan, dan perilaku mereka sendiri dalam kehidupan sehari-hari. Biasanya dilakukan dengan jurnal, catatan harian atau lembar pemantauan pikiran otomatis.
Melalui laihan ini, konseli belajar mengenali pola pikir otomatis yang biasanya muncul tanpa disadari. Hasil catatan ini bisa dibawa pada sesi berikutnya untuk didiskusikan bersama konselor.
3. Thought Sampling (Pengambilan Sampel Pikiran)
Konseli diminta mencatat pikiran yang muncul secara acak dalam keseharian. Teknik ini dapat digunakan untuk menangkap pikiran otomatis yang muncul dalam berbagai situasi dengan lebih spontan. Konseli bisa diminta untuk mencatat pikiran mereka setiap kali merasa emosi negatif. Alternatif lain misalnya, menggunakan pengingat acak (seperti, aplikasi atau alarm) untuk meminta konseli mencatat apa yang sedang mereka pikirkan pada saat itu. Contohnya, ketika alarm berbunyi → klien mencatat, "Aku merasa tidak memiliki teman saat ini."
4. Skala dan Kuisioner
Asesmen juga dapat dilakukan dengan instrument psikologis, seperti:
- Beck Depression Inventory (BDI): untuk menilai tingkat depresi.
- Scale for Suicide Ideation: untuk menilai resiko bunuh diri.
- Dysfunctional Attitude Scale: untuk mengukur pola pikir yang maladaptif.
- Schema Questionnaire: untuk mengeksplorasi skema inti.
Kuisioner ini dapat digunakan untuk mengukur perubahan kondisi konseli setelah terapi dan sebelum terapi, sehingga kemajuannya dapat dilihat.
Dengan menggabungkan berbagai metode asesmen ini, konselor CBT dapat membangun pemahaman yang komprehensif tentang konseli dan merancang terapi yang benar-benar personal dan efektif.