Konsep dasar CBT: Teori Skema (Schema Theory)
Teori Dasar CBT

Konsep dasar CBT: Teori Skema (Schema Theory)

24 Sep 2025


Cover

Skema (schemas) adalah struktur mental atau pola pikir mendasar yang membantu kita memahami, menafsirkan, dan memberi makna pada pengalaman hidup. Skema bisa dianggap sebagai “peta kognitif” yang mengarahkan bagaimana kita melihat diri sendiri, orang lain, dan dunia. 

Skema mulai terbentuk sejak masa kanak-kanak yang terus berkembang sepanjang kehidupan.

  • Pengalaman positif (dukungan, kasih saying, penerimaan) akan membentuk keyakinan sehat seperti “Saya dicintai” atau “Saya kompeten”.
  • Pengalaman negatif (penolakan, kritik, trauma) akan melahirkan keyakinan disfungsional seperti “Saya tidak pantas dicintai” atau “Saya selalu gagal.”

Keyakinan disfungsional disebut sebagai Early Maladaptive Schemas (EMS) atau skema maladaptif awal, dimana pola keyakianan negatif ini terbentuk sejak kecil, sulit berubah, dan sering muncul kembali ketika individu menghadapi tekanan di kemudian hari (Jeffrey Young, 1999). Young, 1999 mengidentifikasi 18 skema maladaptif dalam 5 kelompok dominan utama, termasuk penolakan, kurangnya otonomi, dan kepekaan berlebihan. Skema ini sering kali tidak disadari, tetapi ketika terpicu oleh suatu peristiwa, mereka dapat membanjiri kita dengan emosi negatif.

Skema bisa adaptif (positif) atau maladaptif (negatif) tergantng konteks.

  • Misalnya, skema “Saya berharga ketika bisa membuat orang tua bangga akan prestasi saya” bisa membuat seseorang berprestasi tinggi (adaptif).
  • Tetapi, ketika ternyata tidak bisa masuk kuliah di universitas harapan orang tua, skema yang sama bisa memicu depresi karena muncul keyakinan “Jika saya tidak kuliah di universitas tersebut, saya tidak berharga” (maladaptif).

Hal ini menunjukkan bahwa skema tidak selalu baik atau buruk, melainkan tergantung pada konteksnya. 

Dalam terapi, skema dipandang sebagai akar dari pola pikir negatif dan gangguan emosional. Beberapa poin penting skema dalam penerapannya:

Terapi berusaha mengidentifikasi skema maladaptif, misalnya dengan melihat pola keyakinan dasar seperti, “Saya tidak berharga,” “Orang akan menolak saya,”, dll. 

Skema bisa bersifat “aktif” atau “laten”, ada yang muncul sehari-hari, ada juga yang muncul ketika dipicu situasi tertentu. 

Skema dapat mempengaruhi banyak dimensi:

  • Kognitif-konseptual: bagaimana seseorang menafsirkan dunia (contoh: “Saya tidak pernah cukup baik”).
  • Afektif: emosi yang muncul dari skema (contoh:perasaan gagal atau sedih).
  • Fisiologis: reaksi tubuh, misalnya cemas atau jantung berdebar.
  • Perilaku: Tindakan yang mengikuti skema (contoh: menghindari tantangan).
  • Motivasi: dorongan untuk bertindak (contoh: menghindari rasa sakit, mencari pengakuan).

Tugas konselor adalah membantu konseli mengenali skema “panas” (hot cognition) yaitu skema yang sangat emosional dan aktif di sesi konseling. misalnya dengan bertanya: “Apa yang terlintas dipikiran Anda saat ini?” ketika konseli menunjukkan perubahan ekspresi atau emosi. 

Dengan memahami skema-skema ini, konselor dapat membanu konseli tidak hanya mengatasi pikiran negatif yang terlihat di permukaan, tetapi juga mengubah fondasi keyakinan yang mendalam, membuka jalan bagi perubahan yang lebih permanen dan positif.

Tinggalkan Komentar